Zina: Aib yang Memalukan Keturunan

45.jpg

Dengan meyakinkan kita dapat menyebutkan bahwa awwam sekalipun mengetahui bahwa seorang bapak tidak dapat menjadi wali nikah bagi anak perempuannya jika anak tersebut lahir dari hubungan yang tidak halal, sehingga tidak bisa dinasabkan ke bapak biologisnya. Dan juga bukan hanya itu, mereka berdua tidak dapat saling mewarisi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

“Anak itu dinasabkan kepada suami yang sah sedangkan laki-laki yang berzina itu tidak dapat apa-apa.” (HR Bukhari no 6760 dan Muslim no 1457 dari Aisyah).

Maka ketika hari pernikahan yang merupakan hari yang bahagia bagi seorang anak, ia harus menanggung malu karena wali nikahnya bukan bapaknya sendiri, melainkan wali hakim dari pihak Kantor Urusan Agama, yang mana hal itu menandakan bahwa ia merupakan anak hasil perzinahan kedua ibu-bapaknya dahulu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَالسُّلْطَانُ وَلِىُّ مَنْ لاَ وَلِىَّ لَهُ
“Penguasa adalah wali nikah bagi perempuan yang tidak memiliki wali nikah.” (HR Abu Daud no 2083 dan dinilai shahih oleh al Albani).

Maka pikirkanlah wahai pemuda-pemudi sebelum berbuat, maksiat memang terdapat kelezatan padanya, namun akibat negatifnya sepanjang masa sampai akhirat dan bukan hanya menimpa si pelaku, namun juga hingga keluarga dan anak keturunan yang tidak tahu apa-apa harus menanggung malu dan aib tak berkesudahan di sepanjang hidupnya.
Maka benarlah Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا [الإسراء/32]

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS Al-Israa’/ 17: 32).

Ya! Jalan yang buruk, jalan yang menjerumuskan ke jurang yang dalamnya tak berkesudahan, dosa dan malu yang tiada habisnya, mengapa? Karena jika seorang bapak biologis memaksakan diri sebagai wali untuk menikahkan putrinya yang lahir dari perzinahan, maka pernikahan anaknya tersebut tidak sah, dan berarti anaknya tersebut juga membangun rumah tangga dengan hubungan yang haram, sehingga anak keturunannya pun anak haram, dan seterusnya wal ‘iyadzubillah.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan keturunan kita dari kejinya zina dan hal-hal yang menarik kepadanya.

117 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: