Nahi Munkar Bukan Ditegakkan Dengan Vonis Bid’ah Serampangan

Amar Makruf Nahi Munkar merupakan Syiar Islam yang agung, dan merupakan bagian penting dari dakwah.
Dengan tegaknya Amar Makruf maka umat akan selalu berada dalam kebaikan dan mengerjakan amalan-amalan saleh, dan dengan tegaknua Nahi Munkar, maka umat akan jauh dari kekufuran, kesyirikan, dan kemaksiatan serta menjauhinya.

Namun tetap harus diperhatikan, dalam menegakkan syiar yang besar ini, seseorang juga harus membekali diri dengan ilmu yang memadai, agar tidak salah kaprah dalam menarik kesimpulan hukum suatu permasalah dan bagaimana cara menyikapinya.
Berkata Imam Al Kharasyi:

قال الخرشي في شرح المختصر: الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر من فروض الكفاية بشروط: أن يكون الآمر عالمًا بالمعروف والمنكر؛ لئلا ينهى عن معروف يعتقد أنه منكر، أو يأمر بمنكر يعتقد أنه معروف، وأن يأمن أن يؤدي إنكاره إلى منكر أكبر منه.

“Hukum Amar Makruf Nahi Munkar adalah Fardhu Kifayah, dan ia disyaratkan: Hendaknya orang yang menyeru itu mengetahui mana yang Makruf dan mana yang Munkar; agar jangan sampai ia melarang dari yang makruf karena mengiranya adalah kemungkaran. Atau menyeru kepada yang munkar karena mengiranya makruf. Atau pengingkarannya terhadap suatu kemungkaran malah justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar lagi”. (Syarah Al Mukhtasar)

Maka seorang dai dan siapapun yang memiliki semangat keislaman agar dapat lebih teliti dan berhati-hati, terlebih lagi banyak amalan-amalan yang nyatanya dibolehkan oleh sebagian Ulama, namun karena disinformasi maka dikira bahwa amalan tersebut tidak boleh dikerjakan.
Simak penuturan Imam Annawawi berikut:

قال الإمام النووي: (إن العلماء إنما ينكرون على ما أجمع على إنكاره، وأما المختلف فيه فلا إنكار فيه، لأن على أحد المذهبين كل مجتهد مصيب، وهذا هو المختار عند كثير من المحققين أو أكثرهم) شرح صحيح مسلم للإمام النووي

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:
(Sesungguhnya Ulama hanya mengingkari hal-hal yang telah disepakati akan kemungkarannya. Adapun yang masih diperdebatkan, maka tidak dingkari. Karena pada kedua madzhab itu terdapat Ulama Mujtahid yang bisa jadi benar”. Jadi, inilah pendapat yang dipilih oleh banyak Ulama Muhaqqiq dan bahkan mayoritas mereka”.(Syarah Sahih Muslim)

Maka kemudian, jika ternyata amalan tersebut termasuk ke ranah ijtihadiyyah, dibolehkan oleh Ulama, maka para pelakunya tidak boleh divonis dengan sebutan Ahlul Bid’ah!
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mengatakan hal yang senada:

فلا يصح لأحد أن يبدِّع أحداً أو يخطئه بناء على مخالفته قول أحد علماء السلف حتى يثبت أنه إجماع السلف، أو أن هذا القول دل عليه الكتاب والسنة؛ فإن من أقوال سلف الأمة وأئمتها ما خالف الثابت في الكتاب والسنة، وهم في ذلك معذورون، إذ لا يسلم من الخطأ أو الغفلة بشر.
( مجموع الفتاوى (3/349)

“Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk membid’ahkan orang lain atau menyalahkannya karena berbeda dengan pendapat salah satu Ulama Salaf sampai dibuktikan bahwa orang tersebut melanggar pendapat Salaf yang merupakan Ijma’, atau pendapat tersebut berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Yang demikian karena terdapat dari pendapat para pendahulu dan Imam-imam Salaf yang bersebrangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah , Namun mereka mendapatkan uzur (atas ijtihadnya), karena tidak ada satupun yang dapat terbebas dari kesalahan ataupun dari tergelincir dari keburukan”.(Majmu Fatawa 349/3)

Maka hendaklah setiap dari kita mengukur kembali keilmuan masing-masing, dan terus menambahnya, sehingga jadilah dakwah betul-betul mengajak manusia dengan hikmah, bukan semangat tanpa arah.
Karena sebagaimana yang sudah disebutkan Imam Al Kharasyi di awal, ditakutkan sikap serampangan ini justru akan menjadi bumerang, akan mendatangkan masalah yang lebih besar dari sebelumnya, dan semakin mencoreng nama baik dakwah dan Ahlussunnah wal Jamaah.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik dan hidayah-Nya.

Muhammad Hadrami, LC

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Youtube HisbahTv,
Follow Instagram Kami Hisbahnet dan alhisbahbogor

Klik iklan yang ada di website.
Dengan mengklik iklan yang ada diwebsite, berarti anda telah membantu oprasional dakwah kami. Jazakallahukhoiron.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *