Connect with us

Nasihat

Kesungguhan Sang Teladan

Published

on

Kesempatan berjumpa dengan 10 hari terakhir bulan Ramadhan sungguh merupakan kenikmatan yang agung. Betapa tidak, sementara  di dalamnya terdapat kesempatan untuk mendulang kebaikan yang banyak. Tepatnya pada “Lailatul Qadar” di mana Allah berfirman tentang malam itu, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ , Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (Qs. al-Qadar: 3). Syaikh Sa’diy mengatakan,  ‘amal (shaleh) yang dilakukan pada malam itu adalah lebih baik daripada amal (shaleh) yang dilakukan selama 1000 bulan (± 83 tahun 4 bulan) yang tidak terdapat di dalamnya Lailatul Qadar (Taisiir al-Kariim ar-Rahman Fii Tafsiiri Kalami al-Mannan, 1/931).

Pembaca yang budiman, maka, benar sekali apa yang disabdakan Rasulullah,

فِيْهِ لَيْلَةٌ خُيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرُهَا فَقَدْ حُرِمَ

Padanya (yakni, bulan Ramadhan) terdapat malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, siapa tidak memperoleh kebaikannya maka ia tidak memperoleh kebaikan yang banyak (HR. an-Nasa-i’, No. 2106). Oleh karena inilah, Rasulullah seorang Nabi yang sangat tinggi rasa kasih sayangnya kepada ummatnya, menganjurkan kepada mereka untuk mencarinya, Beliau  bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan(HR. al-Bukhari, No.  2020). Terlebih di malam-malam ganjilnya, beliau  bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan  (HR. al-Bukhari, No. 2017)

Bahkan, beliau sendiri memberikan keteladanan yang sedemikian nyata dalam hal mencari malam yang mulia ini, beliau sangat bersungguh-sungguh mencarinya. Perhatikan dengan seksama apa yang dikatakan istri beliau yang tercinta, ‘Aisyah,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ  يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

Biasanya Rasulullah  bersungguh-sungguh pada 10 (malam) terakhir (bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhan beliau di selain malam-malam tersebut (HR. Muslim, No. 2845)

Di antara bentuk kesungguhan beliau, Aisyah mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ  إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

Bila telah memasuki sepuluh (malam terakhir dari bulan Ramadhan), biasanya Rasulullah  menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, lebih bersungguh-sungguh, dan mengencangkan sarungnya (HR. Muslim, No. 2844)

Menghidupkan malamnya, yakni, menghabiskannya dengan bergadang untuk melakukan shalat dan yang lainnya.

Bembangunkan keluarganya, yakni, membangunkan mereka agar mereka melaksanakan shalat di malam tersebut.

Lebih bersungguh-sungguh, yakni, mengerahkan segenap daya upaya untuk beribadah dengan lebih bersungguh-sungguh dari biasanya. (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 8/71)

Mengencangkan sarungnya, Abdurrahman as-Suyuthi mengatakan, ‘ada yang mengatakan maksudnya adalah bahwa hal tersebut merupakan ungkapan tentang kesungguhan upaya dalam beribadah lebih dari kebiasaan yang dilakukannya di waktu-waktu lainnya. Makna ungkapan tersebut adalah bergadang untuk beribadah… ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut merupakan kiasan “menjauhkan diri dari wanita/istri untuk menyibukkan diri dengan berbagai macam bentuk ibadah. Al-Qurthubi mengatkan, ‘yang ini lebih utama karena telah disebutkan sebelumnya tentang kesungguhan (beliau) dalam mengerahkan daya dan upaya (untuk beribadah) (ad-Diibaaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, 3/264)

Hal ini diperkuat dengan tindakan beliau berupa i’tikaf yang juga menunjukkan bentuk kesungguhan beliau dalam upaya mencari Lailatul Qadar.

Dari Abu Sa’id al-Khudriy, ia berkata, sesungguhnya Rasulullah pernah beri’tikaf pada 10 malam pertama bulan Ramadhan, kemudian beliau beri’tikaf pada 10 malam pertengahan  bulan Ramadhan dengan menempati sebuah qubbah turkiyah (tenda yang berukuran kecil terbuat dari bulu domba dan yang sejenisnya) yang alasnya adalah tikar.  Abu Sa’id al-Khudriy berkata, “beliau menarik tikar tersebut ke arah tenda dengan menggunakan tanggan beliau sendiri (setelah berada di dalam tenda) kemudian beliau mendongakkan kepalanya untuk berbicara kepada khalayak. Orang-orang yang berada di dalam masjid kemudian mendekat ke arah beliau. Setelah itu, beliau bersabda,

إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيْتُ فَقِيْلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ

Sungguh aku pernah beri’tikaf pada 10 malam pertama (bulan Ramadhan) dengan maksud untuk mencari malam ini (yakni, Lailatul Qadar-pen), kemudian aku beri’tikaf pada 10 malam pertengahan (bulan Ramadhan). Kemudian aku didatangi (Malaikat) lalu dikatakan kepadaku, sesungnguhnya malam itu (yakni, Lailatul Qadar) terdapat pada 10 malam terakhir (bulan Ramadhan). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian yang ingin beri’tikaf hendaknya ia ber’itikaf (yakni, pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan). Abu Sa’id al-Khudriy berkata, (mendengar penuturan Rasulullah  tersebut) maka orang-orang pun beri’tikaf bersama beliau (pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan)…(HR. Muslim, no. 2828)

Pembaca yang budiman, maka, seyogyanya setiap muslim bersungguh-sungguh pula dalam upaya mencari malam yang lebih baik daripada seribu bulan ini dengan menghidupkan malamnya, bergadang untuk melakukan berbagai bentuk ibadah kepada Allah baik berupa shalat, membaca al-qur’an, dzikir dan doa dan bentuk aktivitas ibadah dan amal shaleh yang lainnya dalam rangka meneladani sang teladan terbaik, yaitu Muhammad.  Baik, ia tengah dalam kondisi beri’tikaf di masjid ataupun tidak. Karena sesungguhnya kesempatan untuk meraih Lailatul Qadar tersebut Allah berikan kepada orang yang tengah beri’tikaf maupun orang yang sedang tidak beri’tikaf. Namun, tidak berarti bahwa orang yang beri’tikaf dengan orang yang tidak beri’tikaf sama saja dalam hal keutamaan perbuatan. Hal demikian karena orang yang beri’tikaf lebih utama dari orang yang tidak beri’tikaf dari sisi bahwa orang yang beri’tikaf melaksanakan amal yang disyariatkan, ia melaksanakan sunnah Nabi, meneladani beliau yang biasa melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- salah seorang istri Nabi meriwayatkan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Bahwa Nabi biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian para istrinya beri’tikaf juga sepeninggal beliau (HR. Al-Bukhari, no. 2026). Ibnu al-Mundzir mengatakan,”dan mereka (para ulama) sepakat bahwa i’tikaf merupakan sunnah, tidak wajib (hukumnya) atas manusia, melainkan apabila seseorang mewajibkan dirinya sendiri (untuk melakukannya) karena bernazar, maka (dalam kondisi ini) wajib atas orang tersebut untuk beri’tikaf (al-Ijma’, hal.53)

Adapun dari sisi perbuatan ‘itikaf itu sendiri, maka tidak ada hadis Nabi yang valid yang menjelaskan tentang keutamaannya. Abu Dawud di dalam “masa-il”-nya mengatakan, ‘aku pernah bertanya kepada Ahmad (yakni, Imam Ahmad bin Hambal), “Anda mengetahui sesuatu (hadis)  tentang keutamaan i’tikaf?  ia menjawab, “ tidak”, kecuali sesuatu (hadis/riwayat) yang lemah (Masa-il Abi Dawud, hal. 96).  Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda tentang “orang yang beri’tikaf”,

هُوَ الَّذِيْ يَعْكُفُ الذُّنُوْبَ وَيُجْرَى لَهُ مِنْ الحَسَنَاتِ كَعَامِلِ الْحَسَنَاتِ كُلِّهَا

Dia adalah orang yang tengah menahan diri dari dosa, diberikan kepadanya (pahala) kebaikan-kebaikan seperti orang yang melakukan kebaikan-kebaikan seluruhnya (HR. Ibnu Majah, dalam kitab “al-‘itikaf”, bab : Fii Tsawabi al-‘Itikaf (keutamaan I’tikaf), hadis No. 1781), al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, 7/523, dari jalur periwayatan Ubaidah al-‘Amiy dari Farqad as-Subkhiy dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas secara marfu’. Al-Bukhari di dalam tarikhnya (7/131) menyebutkan, (jalur periwayatan) Farqad Abu Ya’qub as-Subkhiy dari Sa’id bin Jubair di dalam hadisnya adalah munkar. Sedangkan (perowi yang bernama) Ubaidah al-‘Amiy, Ibnu Hajar di dalam at-Taqrib 1/247 mengatakan tentang perowi ini, (dia adalah seorang perowi) yang majhul hal (tidak diketahui keadaannya). Dan, al-Baihaqi di dalam asy-Syu’ab mengisyaratkan kepada kelemahannya. Al-Bushiry di dalam az-Zawa-id juga melemahkannya. (Fiqhu al-I’tikaf, 1/148). Wallahu a’lam.

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengajak Anda-wahai saudaraku, kaum muslimin di manapun Anda berada- baik Anda yang sedang beri’tikaf maupun yang tidak, marilah kita bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikaruniakanNya kepada kita berupa “berjumpa dengan 10 hari terakhir bulan Ramadhan kali ini” dengan cara meningkatkan kesungguhan sebagaimana yang dicontohkan sang teladan seperti menghidupkan malamnya dengan berbagai bentuk aktivitas ketaatan kepada Allah sehingga harapan kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar terwujud dan berhasil mendulang kebaikan yang banyak. Semoga Allah memberikan taufiq. Aamiin

 

Referensi :

  1. Al-Qur’an dan tarjamah maknanya
  2. Ad-Diibaaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Abdurrahman bin Abi Bakr Abu al-Fadhl as-Suyuthiy
  3. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Abu Zakariya yahya bin Syaraf bin Mary an-Nawawi.
  4. Fiqhu al-I’tikaf, Prof. Dr. Khalid bin Ali al-Musyaiqih.
  5. Shahih al-Bukhari, Muhammad bin Ismail al-Bukhariy
  6. Shahih Muslim, Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburiy
  7. Taisiir al-Kariim ar-Rahman Fii Tafsiiri Kalami al-Mannan, Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di

Sumber :  Bulletin an-Nuur, Th. XVIII No. 1076/Jum`at IV/Ramadhan 1437 H/ 24 Juni 2016 M

Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Sugono Galih

    11/07/2016 at 18:20

    Rasulullah tauladan untuk Kita semua, trims infonya..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasihat

Demikianlah Kesengsaraan bagi Para Pezina **

Published

on

Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda :

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Seorang pezina tidak akan berzina ketika dia berzina sedangkan dia beriman. [1]

Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berkhutbah dalam shalat Khusuf :

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَحَدٌ أَغْيَرَ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ أَوْ أَمَتَهُ تَزْنِي

“Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah ketika Dia melihat hamba-Nya yang laki-laki atau perempuan sedang berzina. [2]

Mahasuci Allah, Mahasuci Engkau wahai Rabb kami, betapa Engkau Maha Penyabar dan Maha Pengasih.

Sungguh lelaki pencemburu itu jika melihat lelaki lain bersama wanita yang tidak halal baginya, lelaki itu dilihatnya berbicara tidak wajar dengan wanita tersebut, pembicaraan yang isinya ada nuansa mesum serta jerat-jerat rayuan, dia tidak dapat menahan emosinya demi melihat keduanya dan mendengar pembicaraan tersebut.



Inilah dia, salah satu contoh seorang lelaki yang relung jiwanya telah dipenuhi dengan api kecemburuan [3], suatu kali dia berkata, “Jika aku melihat seorang lelaki sedang berduan bersama istriku, tentu aku segera menebasnya dengan pedang, tidak dengan bagian tumpulnya (tetapi dengan matanya yang tajam).” Sampailah perkataannya ini kepada Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, maka beliau pun bersabda, “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad ?! Sesungguhnya aku lebih cemburu dari dia dan Allah lebih cemburu daripada aku.” [4]

Tidak sadarkah setiap lelaki yang gemar berbicara dan bertutur manis dengan kaum wanita, tidak sadarkah dia bahwa kebiasaannya itu mendekatkan pada perzinaan ?!!

Tidak berakalkah dia, padahal dia tahu bahwa Allah senantiasa mengawasinya ?!!

Tidakkah dia tahu bahwa Allah cemburu kepadanya ?!!

Tidakkah dia tahu bahwa Allah sangat keras siksanya ?!!

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-pernah bermimpi, kemudian beliau menuturkan “Suatu malam aku bermimpi, ada dua orang yang mendatangiku, lalu keduanya mengajakku pergi, ‘Ayo kita berangkat,’ Aku pun pergi bersama keduanya.”

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-melanjutkan kisahnya, “Kami terus berjalan hingga sampai pada sebuah rumah yang dibangun seperti tungku”



Perawi berkata (Samurah bin Jundub), “Kira-kira Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda, ‘Ternyata di dalamnya ada suara gaduh dan hiruk pikuk. Lalu kami menengok ke arah tungku itu dan ternyata di sana ada kaum laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba dari bawah mereka menyambar api yang menyala-nyala. Ketika api itu muncul mereka pun gaduh’.” Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda, “Aku bertanya kepada keduanya, siapakah mereka ?” Maka perawi melanjutkan pembicaraannya hingga sampailah pada jawaban keduanya, (yang  membawa Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-), keduanya menjawab terus, “Adapun laki-laki dan perempuan yang telanjang di bangunan semisal tungku itu adalah para pezina perempuan dan laki-laki.” [5]

Kita berlindung kepada Allah dari perzinaan.

Maha suci Allah, demikianlah Allah memberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakan. Kemaluan yang bayak digunakan untuk menikmati yang haram akan disiksa dengan nyala api yang datang dari bawahnya sampai membakarnya.

Alangkah rugi dan celaka para pemilik kemaluan seperti itu !!

Alangkah sedikit ilmu mereka dan alangkah parah kebodohan mereka !!

Kenikmatan sesaat yang mereka reguk, ternyata mendatangkan kesedihan dan kesusahan seperti ini. Demikianlah kesengsaraan bagi para pezina. Kiranya benar apa yang disampaikan oleh Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, “Neraka itu dikelilingi dengan syahwat.”

Mahasuci Allah, sekali kaki ini tergelincir, ekornya adalah segala macam kerugian dan penyesalan !! Jika syahwatnya dilampiaskan di jalan yang haram, buntutnya adalah kehinaan dan kerendahan, siksa yang pedih dan api yang menyala-nyala. Tidak ada kebaikan sedikitpun untuk kesenangan sesaat yang berujung pada api neraka sebagaimana  yang telah dikabarkan.

Sebagian ahli ilmu [6] telah menshahihkan hadis dari Ibnu Umar-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –yang di dalamnya ada sabda Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- sebagai berikut :

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ ، لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا ، بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ ، الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا…

Wahai sahabat Muhajirin, ada lima perkara apabila kalian diuji dengannya maka kalian akan menerima cobaan dan berbagai siksaan. Aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya : Tidaklah perbuatan keji (zina) nampak pada suatu kaum sehingga mereka mengumbarnya secara terang-terangan, kecuali penyakit kolera, demam, dan berbagai penyakit yang tidak pernah menimpa umat terdahulu akan mewabah…



Dalam kitab Shahihain [7] terdapat satu hadis dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi, ‘Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah ta’ala ? Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia-lah yang menciptakanmu.’ Aku berkata, ‘Sungguh itu sangatlah besar. lalu apa lagi ?” Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu membunuh anakmu karena takut jika kelak ia makan bersamamu.’ ‘Lalu apa lagi ?’ tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Yaitu kamu berzina dengan kekasih (maksudnya istri) tetanggamu’.”

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Bahtsu fi Qaulihi Ta’ala : Walaa Taqrabuz Zina, Musthafa al-Adawi, ei, hal.21-24

 

Catatan :

[1] HR. al-Bukhari, no. 2475; Muslim, no. 75, dari jalur Abu Hurairah secara marfu’.

[2] HR. Bukhari, no. 1044, Muslim, hal.901

[3] Dia adalah Sa’ad bin Ubadah.

[4] HR. Bukhari, no. 6846; Muslim, no. 1499

[5] HR. al-Bukhari, no. 6846; Muslim, no. 1499.

[6] Di antara yang menshahihkannya adalah Syaikh Nashiruddin al-Albani-semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang luas kepada beliau- di dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah dengan no. 106. Dalam hal ini saya (penulis) tidak sependapat dengan beliau. Hadis ini diriwayatkan dari jalur Atha bin Abi Rabah dari Ibnu Umar. Para ulama berbeda pendapat tentang keshahihan riwayat Atha dari Ibnu Umar. Menurut saya, pendapat yang kuat adalah Atha tidak pernah mendengar hadis ini dari Ibnu Abbas. Kemudian syaikh al-Albani  menghadirkan hadis lain sebagai penguat, yaitu hadis :

وَمَا ظَهَرَتِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ إِلَّا سَلَطَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْمَوْتُ

Tidaklah perbuatan zina tampak pada suatu kaum, melainkan kematian akan menguasai mereka.

Tapi sayang, sanadnya tidak sama. Hadis ini diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -.

[7] Shahih Bukhari, no. 4477, dan Shahih Muslim, no. 86.

Continue Reading

baru

Sejumlah Ancaman Bagi Pelaku Zina **

Published

on

Sejumlah Ancaman Bagi Pelaku Zina

**

Khusus untuk perbuatan zina, maka ada sejumlah nash yang memberikan ancaman bagi pelakunya.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا  [الإسراء : 32]

Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (al-Isra : 32)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ  [النور : 3]

Laki-laki pezina tidak menikah kecuali dengan perempuan pezina atau perempuan musyrik, dan perempuan pezina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (an-Nur : 3)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)  [المؤمنون : 5 – 7]

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampoi batas (al-Mukminun : 5-7)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) [الفرقان : 68 – 70]

Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakin) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih ; maka dari itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (al-Furqan : 68-70)

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Bahtsu fi Qaulihi Ta’ala : Walaa Taqrabuz Zina, Musthafa al-Adawi, ei, hal. 19-20

 

 

 

Continue Reading

baru

Pengharaman Zina Secara Khusus

Published

on

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah mengharamkan perbuatan keji secara umum, dan zina secara khusus. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah mengingatkan manusia tentang dosa zina dengan begitu tegas dan menjelaskannya dengan sejelas mungkin.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (28) قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ [الأعراف : 28 ، 29]

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah, “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. Mengapa kalian mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui ?” Katakanlah, “Rabb-ku menyuruh menjalankan keadilan..” (al-A’raf : 28-29)



Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ  [الأعراف : 33]

Katakanlah, “Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi…” (al-A’raf : 33)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ  [الأنعام : 151]

Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi…(al-An’am : 151)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ  [النحل : 90]

Sesungguhnya Allah memerintahkan (kepada kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran (al-Nahl : 90)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- memberikan ancaman yang sangat keras kepada orang-orang yang suka menyiarkan dan menyebarluaskan perbuatan keji di tengah-tengah kaum muslimin.

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ  [النور : 19]

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita bohong) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalang orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui (an-Nur : 19)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menerangkan bahwa para penyeru dan penghias perbuatan keji ini sebagai setan.



Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ  [البقرة : 268]

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kekejian, sedang Allah menjadikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia … (al-Baqarah : 268)

Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-juga menjelaskan bahwa hobi para pengekor syahwat ini adalah memalingkan dan menyesatkan manusia, kemudian menyeret mereka ke dalam perbuatan keji ini. Tentang mereka Allah berfirman :

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا  [النساء : 27]

Dan Allah hendak menerima taubat kalian, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kalian berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran) (an-Nisa : 27)

**

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Bahtsu fi Qaulihi Ta’ala : Walaa Taqrabuz Zina, Musthafa al-Adawi, ei, hal. 15-18

Continue Reading

Trending